Senja di Ujung Ilalang

Di antara ilalang, aku memandang jauh kehamparan hijau tak berujung tanpamu disetiap incinya.

Bulan pernah bertanya pada lautan apakah ia pernah merindukan bintang, namun lautan hanya menjawab dengan senyuman yang dalam, diteruskan gulung ombak yang menyuarakan luka dan tangisan akan cinta yang tak kunjung terjadi.

Lalu andaikan, bahwa engkau bintang dan aku lautan.

Di antara ilalang, angin menerpa, menjauhkanku dari keramaian, dengan niatan menggapaimu yang katanya berada di ujung hijau. Aku masih ingat, menemuimu dalam penasaranku yang berujung petaka. Engkau berjalan satu, dua langkah, lalu berhenti. Membalikan badanmu menghadapku, seraya memutar balik perasaanku dari ingin tahu jadi ingin kamu. Matamu yang dangkal menatapku tanpa arti walau mengajakku bicara sepanjang hari. Nyatanya, apa pun yang terjadi saat itu, berhasil membuat lautan jatuh hati pada bintang.

Bintang membayang-bayangi lautan saat malam, menyanyikan kisah-kisah bahagia tentang sanak saudara. Menyenandungkan lagu cinta entah untuk siapa. Lautan pernah berdebur pada bulan, bahwa laut tanpa bintang membuat nelayan hilang arah, sebagaimana lautan yang hilang dalamnya; hanya bisa menganga berteriak “Bintang! Cepat keluar! Menarilah bersamaku, Bintang! Oh, Bintang!

Aku ingat pula, bagaimana aku mengikutimu menjelajahi hijau yang lama-kelamaan terwarnai senja, sehingga ilalang menjadi keemasan. Rambutmu yang panjangnya tanggung akan bergoyang ke kanan-kiri selayaknya tanganmu yang berayun diantara kebebasan dan belenggu. Aku tergopoh-gopoh mengejarmu, yang berlari menuju habisnya waktu.

Habisnya waktu:

Waktuku habis mengejarmu, yang tak tahu engkau dikejar.

Atau memang, waktu di bumi sudah semakin menipis, sehingga tak sewajarnya kuhabiskan untuk mengejarnya yang sibuk mengejar matahari?

Suatu malam, ketika bulan sedang sabit, hujan mengguyur lautan dan menyelimutinya dengan abu-abu. Hujan datang ditemani petir, ditemani angin yang teramat dingin. Malam memuram, menembuskan gelapnya pada samudera lautan yang sudah teramat kelam. Laut merindukan bintang. Namun ternyata alam berkehendak menunda rindu tersebut lebih lama lagi.

 

Bintang yang hanya sisa kerlipnya,

Bintang yang hanya banyak bicara dan bernyanyi saja,

Adalah bintang yang membuat laut rindu gelapnya,

Adalah bintang yang menyentuh lembut sisi paling rumit laut tanpa riak.

 

Aku bicara padamu, memohon; “Berhenti”. Namun dasar kepala batu, engkau malah semakin sibuk berlari, menuju ujung hijau yang diawang-awang. Tolong, lihat aku yang terengah-engah, kehabisan napas, mengejarmu yang merenta, dimakan waktu.

Senja menua, laut mengisakkan usia.

 

Pada cinta yang tak kunjung tiba, atau memang hanya diangan saja,

Kusinggahkan do’a pada Tuhan maha Cinta.

 

Jakarta, 22 November 2016

Anindhita Soekowati

Doa dan Retorikanya

tumblr_nlclbzNueW1u92edbo1_1280
Picture by Indostreets

Doa, adalah langkah terkahir untuk setiap usaha manusia. Doa, adalah kepasrahan hakiki tentang hidup itu sendiri. Ia adalah pelarian manusia dari ketidakpastiannya, dan jangkauan terdekatnya kepada angan-angannya yang jauh berjarak dimensi yang berbeda. Aku, pada dasarnya memilih menjadi manusia beragama atas dasar diri egois tidak mau repot ketika aku gusar, aku tidak punya tempat bersandar. Ketika engkau hidup dalam sepinya keramaian, Tuhan adalah teman yang paling dekat engkau miliki untuk berbagi kisah ataupun emosi. Walaupun engkau bukan orang yang taat beribadah sekalipun, ataupun dosamu lebih banyak dari amal baikmu, rasanya selalu menyenangkan ketika aku tahu ada yang berada disisiku.

 

Bekerja di kota ramai padat penduduk membuatku biasa dengan hal-hal menjijikan di kota ini. Sebuah kota besar nan megah sebenarnya singgah diatas koloni tikus, rumah kumuh tidak layak huni, orang-orang birahi tinggi, dan ibu-ibu yang tidak tahu harus kemana pergi walaupun sudah tidak kuat dengan suaminya lagi. Aku tinggal di kota yang bisa berbagi segala cerita dari segala pandang dan segala luka. Cerita yang dibagi, tentu tidak sama. Namun, satu yang selalu sama disini, individualismenya. Ketika engkau berjalan di keramaian kota, jangan harap ada orang yang menyapamu, atau peduli engkau tidak mengikat tali sepatumu, atau engkau belum makan seminggu. Engkau adalah milikmu, dan hanya punya dirimu sendiri. Maka dari itu, aku memilih berteman dengan Tuhan, yang mungkin sebenarnya hanya imajinasi belaka dari zaman ke zaman milik orang-orang kesepian dan jauh dari harapan. Aku berteman dengan Tuhan dan menjadi taat bukan karena aku mendapat hidayah Ilahi atau apapun itu, aku berteman dengan Tuhan semudah, agar imajinasiku bisa melayang dengan jauh.

 

Dulu, ketika aku belum pindah ke neraka, aku selalu berdoa agar bisa hidup seperti orang kota. Di kampungku, semua orang kolot hanya mau bertani, setiap hari pergi ke masjid untuk apa mereka tidak mengerti. Seakan-akan agama hanya tren bentuk ikut-ikutan, semuanya mau berteman dengan Tuhan. Padahal, berbicara padanya saja belum pernah. Makanya, aku mau pindah ke kota, aku pikir aku bisa jauh berpikir dengan bebas, beragama dengan pikiranku sendiri. Nyatanya, kembali lagi, aku ternyata hanya beragama karena aku harus, bukan aku ingin. Demi kewarasanku lah aku beragama di neraka ini. Namun setidaknya kali ini aku mengerti mengapa aku harus beragama. Itu jauh lebih baik daripada aku harus tahu dalam ketidaktahuanku, seperti kurcaci pabrik yang tidak tahu apa yang mereka buat untuk perusahaanya. Tuhan setidaknya menjadi teman kesendirianku di kota ramai tapi sepi ini, Tuhan adalah obat ketidakwarasan manusia di kota besar ini.

 

Kampung dan kota, kurasa keduanya hanya suatu bentuk ruang yang sebenarnya hanya suatu abstrak. Bentuk yang aku lihat sekarang hanyalah visualisasiku, yang menciptakan cara pandangku yang sebegini menyedihkannya tentang hidup. Di luar sana, ada wanita yang memandang kota ini sebagai swargaloka tempat hidup selamanya, dia tidak mau mati, dia tidak mau pergi. Kota ini hidup, kota ini Tuhannya. Dia tidak memilih berteman dengan Tuhanku, karena tidak perlu. Dia tidak perlu melayangkan imajinasi dengan jauh, karena imajinasinya dekat. Dia merasa ramai di kota yang ramai. Wanita itu hidup bahagia, tak perlu pikir panjang, pikirannya dangkal. Kadang aku berpikir mana yang lebih indah, hidupku yang bagiku penuh derita namun aku bertemu Tuhan dan punya makna dalam, atau wanita itu yang bahagia tapi tidak tahu apa-apa? Bagaimana abstraksi hidup menjadi visualisasi yang menyenangkan matanya –wanita itu–? Seakan-akan kami sedang melihat lukisan yang sama, namun kami mendapatkan makna yang berbeda.

 

Mungkin, aku tahu terlalu banyak, atau aku mungkin menuntut terlalu banyak pada si Tuhan. Tuhan memberiku segala rupa keindahan yang aku minta, aku ingin pergi ke kota, Ia beri aku pergi ke kota. Aku ingin merasa ramai, kini aku di kota besar. Aku ingin berhenti bergaul dengan orang-orang kolot, kini aku melihat banyak orang-orang futuristik. Kurasa betul, aku yang terlalu banyak meminta yang tidak perlu pada si Tuhan ini. Aku selalu meminta lebih dan lebih, aku tidak pernah merasa puas. Sebenarnya, aku pun bingung kenapa Tuhan yang merupakan imajinasi orang dari zaman ke zaman itu, masih mau menemaniku agar tetap waras. Atau Tuhan hanya teman orang-orang gila yang tidak suka bersyukur itu? Tinggal di kota besar penuh tikus ini, membuatku kehilangan akal sehatku, begitu juga dengan penghuni lain kota ini. Sekali lagi, mungkin, individualisme adalah manifestasi dari kegilaan penghuni kota yang tidak pernah tidur ini. Membagi luka dan rasa tidak bersyukur, terlalu berat bagi masyarakat urban yang individualis. Tuhan, merupakan pasangan ideal untuk filosofi individualisme kota yang ramai nan sepi ini.

 

Kasihan ya Tuhan, hanya jadi kambing hitam keluh kesah masyarakat tidak tahu diri.

 

Sabar ya kawanku Tuhan, mungkin tidak di kota ini aku menemukan hidayah untuk benar-benar jatuh cinta padaMu, mungkin suatu hari nanti aku mencari hidayah itu. Sekarang, aku hanya ingin merindu pada ketidak-bersyukuranku dan mengkambing-hitamkanMu. Bersabarlah dulu, suatu hari nanti, aku akan pulang ke kampung, membawa cerita hebatnya kota, dan mencari diriMu dari sudut pandang hidup yang berbeda. Aku akan berbahagia, akan bersyukur pada kesederhanaan dunia, dan membagi rasa syukurku pada sanak dan anak pinakku nantinya. Suatu hari nanti, aku akan jatuh cinta padaMu, pada kesempurnaannya cinta itu.

Depok, 20 April 2016

Picture: http://www.worldsp.co/post/115497974518/indostreets-laundry-underground-jakarta