Sarak

Matahari tenggelam di antara sayu matamu
Mendatangkan gerimis yang jatuh dari sembab mataku
Kurasa janji yang membuaimu, telah habis dalam kalut pikirku
Perasaan yang sama, ketika aku jatuh pada terjal lekuk bibirmu

Gelap malam dan gemuruh petir mengisi jeda di antara aku dan kau
Menimbulkan tanya, mungkinkah esok dapat ditunda kedatangannya
Sempitnya waktu tidak memberi kesempatan bagi kasih bergejolak dalam relungku
Lamanya rintik akhirnya hanya sanggup membuat kita mendekap menunggu

Dan ketika akhirnya hari ini habis, detik berdenting maju
Meski gelap gundah matamu tetap meruangi aku
Sekali aku berpisah denganmu
Seribu tahun senjamu mengisi jiwaku

Di lain waktu alam berisyarat pada aku dan kau
Aku sampaikan rindu dan ampun
Kau sampaikan padaku;
Jika pergi tanpa pesan,
Jangan pernah kembali walaupun dengan ribuan permisi

Jakarta, 14 Oktober 2017
Anindhita Soekowati

a3914c8ade5884d3fbc9cdecd252e26c

Advertisements

Hilang

Aku mengadah pada langit yang hampa

Memandangi langit yang jelas kosong tanpa bintang yang biasanya benderang

Lalu aku ganti memandangi jalan yang sama lengangnya

Motor mobil becak bemo satu-satu lewat, dan aku cari mata yang biasanya teduh padaku

tidak ada

Hari ini hanyalah hari lain bagi semesta

Namun hari ini terasa luar biasa hampanya

Tidak seperti hatiku yang gaduh,

Paradoks?

Tak ada kata lagi yang cukup indah untuk dirangkai

Tidak ada warna yang lebih indah untuk dipandang

Karena lelah, dan hanya bisa lelah menunggu kamu yang tak kunjung datang

Kamu, kamu dimana?

Bawa pulang rasa, bawa pulang tenang

Tolonglah

Semesta, tolonglah

Bawa ia pulang, atau jangan sama sekali

Biar saja hilang, dimakan debu atau jadi tak bersuara seperti sepi

Mungkin nanti tenang datang

Membawa rasa yang pernah kau bawa kabur,

hilang.

Hadiah Waktu

Aku menyalami seorang Pelukis Senja yang menggoreskan kuasnya pada mega-mega yang mulai menghilang. Habis ini ia pun hilang, digantikan malam yang akan mengisi hingga fajar menjelang. Dulu, ketika aku pertama kali bertemu dengannya, ia berjanji akan melukiskanku semesta, sehingga ia tidak akan pernah hilang terbawa malam, atau harus membuatku menunggu siang, hingga ia datang. Ia mengatakan bahwa ia adalah Pelukis Semesta paling ulung sehingga dua pertiga semesta yang kusaksikan adalah lukisannya. Ia membuktikannya padaku dengan menunjukkan bintang merah kesukaanku di langit, ia mengatakan bahwa ia pelukisnya. Ternyata, bintang merah di langit adalah senja yang akan datang setiap harinya, bersama dengannya, si Pelukis Senja.

Waktu, Waktu merupakan permainan alam yang paling ambigu dan selalu ditunggu-tunggu. Dalam dunia syair, Waktu adalah topik favorit kedua setelah kata yang paling bosan kudengar, yaitu cinta. Waktu adalah musuh dari rindu, namun teman setia kematian. Aku adalah pengikut Waktu, sehingga, aku dapat menikmati selalu karya-karya yang dihidangkan Waktu. Aku tidak pernah melawan Waktu, meskipun ia sering kali mengejarku. Ini juga cara aku bertemu dengan Pelukis Senja.

Dalam satu hari, Waktu akan menyediakan aku berbagai macam seni, mulai dari fajar, hingga malam lagi. Hanya satu yang tidak dapat dihidangkan waktu untukku, semesta. Saat fajar, Waktu menghadiahiku penyair hebat yang akan menyairkan sajak bangun tidur pagiku, agar sepanjang hariku menyenangkan. Aku tidak terlalu mengenal Penyair Fajar, namun aku sangat menyenanginya. Penyair Fajar selalu menjadi alasan senang-sedihku sepanjang hari. Namun begitu, aku hanyalah orang lain bagi Penyair Fajar, sebagaimana sajaknya bukanlah milikku, namun milik dunia.

Fajar datang dalam sempitnya waktu, karena ia segera digantikan oleh seorang teman lamaku, Pemusik Pagi. Pemusik Pagi akan menyenandungkan padaku lagu-lagu yang merasionalkan perasaanku. Pemusik Pagi adalah temanku berbagi asa yang telah kutimbun sehari sebelumnya. Ia adalah teman bergunjing paling seru, juga teman yang selalu ada di kala biru. Maka dari itu, pagi selalu menjadi waktu dimana hariku menjadi sangat produktif, atau sangat malas. Pagi, bukanlah tuntutan melainkan kewajiban yang harus berjalan. Aku sadar akan hal itu sejak kecil, sedari pertama aku bertemu Pemusik Pagi.

Lalu aku berpisah dengan Pemusik Pagi, yang pertemukanku dengan Pengukir Siang. Ia seorang penggerutu! Karyanya tidaklah indah, karyanya tidak spesial, sebagaimana siang yang tidak istimewa. Si Pengukir selalu marah-marah, membawa hawa panas pada hati yang juga gelisah. Untukku yang tidak suka Matahari, hadirnya Pengukir Siang justru membuat siangku semakin menyebalkan saja. Ia akan mengukirkanku sendu gelisahnya, namun ia tidak pernah mau mendengar ceritaku. Ia juga sering memburuku dengan Waktu, yang ia sebut sebagai inspirasinya. Hanya Pengukir Siang yang berani mengesalkan aku, ia tidak takut pada waktu, apalagi aku. Siang, adalah waktu dimana manusia berhamburan meriuh ke jalan, atau ke gedung-gedung tinggi di kota. Siang adalah teman urban, namun tenang di desa. Kurasa Pengukir Siang perlu kuajak ke desa, karena ketika siang, petani di desaku beristirahat dan menceritakan cerita jenaka yang membuat tertawa. Kurasa dengan begitu, siang akan menjadi tenang. Pengukir Siang menjadi senang.

Ketika Matahari mulai lingsir dari singgasananya, Kakek Sore datang membawa senyum dan lagak tawa. Aku mengenal Kakek Sore bersamaan dengan aku mengenal Pemusik Pagi. Kakek Sore merupakan seorang diplomat ulung pada zamannya. Sekarang, ia menjadi seorang pendongeng cerita masa mudanya. Seni yang selalu dapat aku nikmati, tanpa merasa tertuntut oleh tekanan paradigma masyarakat dimana seni harus nyeni. Kurasa, dengan Kakek Sore, seni bisa menjadi suatu hal yang lepas tanpa ikatan, karena aku cukup mendengarkannya, lalu hilang dalam imajinasiku sendiri, dalam semesta yang aku rindu-rindukan, namun hanya dapat dirindukan saja. Kakek Sore adalah seseorang yang dapat membuatku hilang dalam diriku sendiri, dalam suatu karsa yang tidak dapat dicipta orang lain. Hanya aku saja yang tahu. Aku senang, Kakek tidak memaksa untuk ingin tahu. Ia hanya bercerita, dan menunggu aku membagi bahagia. Ia juga menunggu aku tumbuh dewasa, sehingga aku tahu, bahwa setelah sore hilang, bukan malam menjelang, namun senjalah yang datang. Kakek menunggu aku dewasa, karena senja hanyalah milik remaja yang jatuh cinta.

Dan benar, aku tumbuh menjadi gadis polos, yang setiap Kakek Sore pergi, aku tetap menanti malam tiba untuk menjadi hadiah Waktu. Namun suatu hari, ketika waktu mulai menghadiahi aku dengan malam, aku dihampiri oleh seorang pelukis yang mengaku datang dari imajiku yang jauh, yang hanya dapat ditemui di sore hari. Ia datang dari semesta, karena ia adalah Pelukis Semesta. Ia datang dari dimensi yang mengalahkan waktu, sehingga ia tak lekang. Ia ada untuk selamanya.

Saat itu, di depan mataku yang masih polos dan lugu, Pelukis Semesta menawarkan aku tangannya, mengajakku pergi keluar batas waktu yang telah menghadiahiku segalanya. Dasar aku yang bodoh dan polos, aku terima saja tangannya, percaya ia dapat membayar rinduku pada semesta yang tidak pernah tersampaikan. Namun, ketika aku mengambil tangannya, ia tidak melukiskan semesta, ataupun planet-planet di angkasa. Ia meringkuk, menjadi bagian waktu, dan kunamai ia senja.

Kakek pernah bilang, aku akan jatuh cinta. Ketika aku jatuh cinta, aku akan bertemu senja. Senja tidak bisa menawarkanku keindahan semesta yang begitu rupa, namun senja dapat menjadi suatu kelegaan luar biasa di dada, layaknya sakura yang tidak mengapa bunganya gugur di musim gugur. Senja dapat membuatmu terluka berkali-kali, namun jatuh cinta berkali-kali juga. Senja bukan mainan anak kecil, senja adalah mainan kawula yang pikirannya melanglang jauh, mengarungi samudra, sembari menunggu senja hilang, digantikan malam. Karena memang, senja datang hanya sebentar, dalam hitungan detik ia hilang, dan menjadi kenangan. Begitu juga dengan Pelukis Senja, ia memelukmu sekejap saja, lalu hilang dibawa malam. Ia akan menyisakan buaiannya, sentuhan tangannya yang penuh cat di pipimu, menggoreskan warna oranye keemas-emasan, serta belaian lembut di rambutmu. Setelah itu ia hilang. Engkau harus menunggu lama lagi, hingga esok dapat bertemu dengan Pelukis Senja yang menjanjikan semesta itu. Walaupun begitu, aku percaya satu hal. Pelukis Senja dapat memberikanku semesta, karena semesta, adalah ruang yang sangat luas yang bahkan tidak dapat hatimu cukup menampungnya. Pelukis Senja merupakan pemimpi, namun ia bukan penipu.

 

Pelukis Senja hilang, meninggalkan ribuan kenangan yang ia sampaikan lewat matahari yang tenggelam. Ia mengantarku pada malam yang sungguh panjang, yang diisi oleh hadiah waktu, yaitu Penari Malam. Penari Malam bukanlah teman, juga bukanlah lawan. Penari Malam adalah pelabuhan setiap insan yang penuh khayalan. Ia akan menarikan mimpi-mimpi, dan juga menemanimu terjaga, ketika Waktu tidak cukup baik hati padamu untuk membuatmu terlelap. Penari Malam adalah cerminan luka-lukamu yang paling dalam, ia adalah wujud melankolis dari Waktu, yang sendirinya berharap ia boleh berhenti bekerja satu detik saja. Waktu bertanggung jawab pada seluruh dunia dan Tuhan untuk setiap menit yang dianugerahinya. Maka, ketika waktu datang bersama malam, ia menghadiahiku Penari Malam yang sesungguhnya wujud ceritaku dan ceritanya. Penari Malam, ia dapat menarikan tarian paling duniawi, dan ia pun dapat menarikan tarian paling surgawi. Penari Malam adalah bisu yang tidak disampaikan oleh bibir yang sudah terlalu banyak berkata. Ia akan menyampaikan ceritanya lewat gemulai geraknya yang selalu menyenangkan mata. Penari Malam adalah kepedihan, serta ketenangan yang paling syahdu, apalagi setelah aku bertemu senja. Malam, adalah teman setia jiwa-jiwa yang terluka.

Lalu, hari berganti. Waktu telah menganugrahiku berbagai macam seni, menjadi rutinitas yang aku patuhi. Bersama dengan datangnya waktu, aku menua, namun tidak semakin dewasa. Aku tetap menjadi aku yang tidak tahu diri, yang dengan senang menikmati seni anugrah waktu tanpa membayar sepeserpun. Meski begitu, waktu tetap setia, menemaniku yang mulai mati rasa. Ia tetap hadir bersama kisah-kisahnya. Menjadi tanya, bagi jiwa yang tersesat, atau jiwa yang menyusuri jalan pulangnya.

Bandung,

Senin, 13 Juni 2016

02:38 AM

Pelacur Kota Jakarta

Sebuah dialog singkat terjadi diantara aku, dan kembang perawan

Ia menawan, bak mawar yang terlalu merah

Pipinya kemerahan,

Matanya hitam, sehitam kopi tadi pagi

Ia mengajakku pergi, ia mengajakku pulang pada Ibu

Ia katakan padaku, bahwa segenap jiwa akan dia berikan padaku yang ragu

Ia akan berikan lebih dari sekedar raga yang ranum, namun juga jiwa kosongnya itu

Asal aku bawa ia pulang pada Ibu

Sayang, kukatakan pada kembang perawan,

“Jangan pulang padaku, Nak”

“Cari saja Bapakmu”

“Pulanglah ke mana asalmu, aku tak tahu”

Lalu kutinggalkan ia yang duduk tersedu

Maafkan Ibu nak,

Ibu tidak dapat berikan apa-apa padamu

Karena Ibu,

Hanyalah sekedar pelacur kota Jakarta

Yang jiwanya lebih kosong dari jiwamu

Kau yang Idaman

bed-couple-cuddle-cute-Favim.com-1476058

Kemanakah pulang itu?

Ketika rumah bukan lagi tempat yang teduh

Atau ketika kaki harus beralaskan sandal untuk menginjak lantai rumah

Karena beling-beling yang kau pecah, dan piring-piring yang kubelah

Jadi, kemanakah pulang?

 

Dimanakah rumah itu?

Ketika atap genting satu persatu runtuh, menjatuhi kepala dari tubuh yang terlelap

Ketika aku harus selalu siaga dirumahku sendiri

Karena engkau, bukan lagi jadi pelabuhan dari akhir pelayaran

Jadi, dimanakah rumah itu?

 

Maka aku hendak pergi,

Meninggalkan rumah yang dulu idaman,

Membawa hati yang terkoyak, juga raga yang tidak utuh

Aku pergi kosong kaki, berlumur darah dan nanah,

Serta asa yang tinggal setengah

Jiwaku mengembara lagi

 

Jika di rumah engkau tetap bertahan

Kuharap kau sapu beling dan piring,

Tambal genting rumah indaman

Serta, jangan lupa,

Jadikan dirimu, hati yang nyaman lagi

 

Bukan untukku,

Namun untuk jiwa hilang lain lagi

Pernyataan Paradoks

Rabu, 23 Desember 2015

140403-byer-dollar-a-day-21

Katamu,

Langit malam bertabur bintang

Padahal, saat malam sirna bintangpun masih bertabur

Hanya saja, matahari tak lagi malu untuk berkuasa

 

Katamu,

Laut itu biru

Padahal, langitlah yang biru

Dan sedalam-dalamnya laut adalah hitam

 

Katamu,

Pelangi tiba saat hujan reda

Padahal, pelangi adalah bias

Maka ia tiba kapanpun ia mau

Karena aku padamu pun bias

 

Lalu katamu,

Ibu kuat seperti baja, mencinta seperti pujangga

Padahal, Ibu rapuh seperti daun dimusim gugur, mendemdam sedalam palung

Karena wanita menjadi Ibu hanya untukmu

Segalanya bagimu

 

Dan katamu,

“Segalaku pun bagi Ibu”, “bahagiaku untuk Ibu”

Padahal, Segalamu hanya sedangkal telaga

sedang segala Ibu sedalam jagat raya

 

Jadi kataku,

Maafkan aku,

Ibu

Jelajah Puan

adventure

Wanita adalah petualangan di pantai lepas ataupun di bukit luas

Pria adalah petualang yang mencari-cari jawaban

Namun tak semua pantai lepas, cukup indah untuk disebut pantas

Ataupun tak semua bukit luas, hijau untuk didaki

 

Pria mencari dan mencari, mana petualangan yang layak aku jelajahi?

Dan wanita duduk termangu, merasa tak cukup indah untuk diselami

Walaupun mungkin, disisi lain, ada wanita lain yang merasa terlalu baik untuk diarungi

Mungkin juga, ada wanita yang merasa cukup dengan satu lelaki

 

Wanita adalah petualangan di pantai lepas, atau mungkin jiwanya yang lepas

Wanita adalah jiwa yang lepas, butuh dada untuk bersandar dari semua khawatirnya

 

Dan kamu,

Adalah petualang yang ku harap mencarinya

Jiwa yang lepas

 

Jakarta, 22 Maret 2016

 

Teruntuk yang kuharap

Sedang menanti