Di Sisi Lain Ranjang

4b38cc99166b90cccbdcf16c4f415241

Ini kisah tentang orang-orang yang saya kenal, sebut saja Adinda Laras dan Prawira Aji. Tak banyak yang tahu tentang mereka, bahwa mereka dekat. Kisah ini akan jadi kisah sedih dari awal hingga tamat nanti. Sedikit banyak, cerita ini mengisahkan kalut perasaan dan ketidakadilan yang mereka rasakan, dan apa yang terlihat dari mata orang ketiga.

Pendek cerita, si Pria melakukan dosa besar dengan melakukan pelecehan seksual terhadap gadis lugu yang sangat memercayainya. Gadis bernama Adinda itu, hanya bisa membisu dan tidak melakukan apa-apa ketika Wira melancarkan niatannya di keramaian. Dalam hingar ia sendiri, tak seorang pun tahu. Malam berakhir dengan Adinda memaksa Prawira bertemu orang tuanya di depan rumah, sebagai tanda. Siapa tahu hal buruk terungkap di kemudian hari, Ibu dari Adinda sudah mengetahui wajah dari bedebah ini. Tak sekalipun Dinda katakan pada Wira, bahwa ia menyadari apa yang telah dilakukannya.

Pada akhirnya, hingga detik ini mereka tidak pernah berbicara lagi. Sekalipun dua minggu setelah kejadian itu, Prawira terus-menerus berusaha menghubungi Adinda sekali seminggu walaupun tak pernah lagi ada balasan. Syahdan, Adinda memutus hubungan sosial medianya dengan Prawira, dan akhirnya Pria ini tidak lagi berusaha menghubunginya.

Tak banyak orang tahu, namun Prawira adalah Pria yang sudah berkekasih, jelita pula. Gadisnya anak orang kaya, berwatak halus, namun naif juga. Prawira kerap bercerita pada saya bahwa tak sekali ia main di belakang gadisnya, ia tak mengatakan pada saya bahwa salah satunya adalah Adinda. Yang tidak ia ketahui adalah, Sang Gadis sedikit menaruh hati padanya, sebab Prawira menjalankan modus operandinya dengan sabar berbulan-bulan. Lain halnya Prawira, saya tak menangkap apakah ia benar-benar menyenangi gadis itu atau tidak, mungkin karena wataknya yang jelas buaya. Malahan, Prawira ini memancarkan nafsu yang berhasil ia bungkus dengan rapi dalam perhatian tiada rupa dan tak terkalahkan. Gadis ini manis, meski ia sangsi akan hal itu. Namun Prawira berhasil membuatnya merasa berharga, dan Adinda benar-benar merasa itu lebih dari cukup.

Setelah pelecehan seksual itu terjadi, Adinda tiga bulan tidak keluar rumah kecuali untuk berkuliah. Padahal ia seorang yang teramat supel dan jawara dalam berteman. Di rumahnya, ia terlihat biasa saja, bak tidak terjadi apa-apa, begitu juga dengan Prawira. Namun ada kalanya, Gadis ini menangis meraung-raung karena hatinya begitu luka setiap melihat nama Prawira di layar kaca. Ibunya bercerita pada saya bagaimana hatinya tersayat setiap mata sayu Dinda meneteskan air mata. Sayangnya, bahkan Adinda tidak tahu mengapa ia acap kali menangisi lelaki yang tidak pernah ia cintai. Ia sekedar menaruh hati, bukan suatu apa.

Di sisi lain ranjang, Adinda bercerita pada saya dengan mata mengawang dan nanar.

“Ternyata aku tidak berharga, Sukma.”

“Sudah, jangan kau sebut begitu, Dinda.”

“Ah… Bagaimana tidak, Sukma? Manisnya ia tak sampailah di bibir pula, namun pada tindaknya. Entah, seperti mawar ia merajai aku, lalu sampai batang ia berduri”, Adinda menarik napas panjang. “Hatiku sungguh terluka, Sukma.”

“Kenapa Adinda? Kenapa tidak kau lupakan saja?”

“Karena tak habis pikir bagaimana ia bisa begitu hilang akal dan menghinakan orang dekatnya. Pun aku bukan kekasih, bukanlah aku berhak untuk dijaga, Sukma? Ia yang selama ini melindungiku, kuat hati merendahkanku.”

Adinda tidak menangis, namun saya tahu pasti di dadanya seperti ada goresan bekas cakar dan cabikan. Sekiranya harga diri lebih tinggi dari materi dan kesenangan dunia.

Kemudian tanpa kata, saya membaca pesan di mata Adinda. Ketidakadilan yang ia rasa ternyata bukan satu-satunya perkara. Kalut ia rasakan, tentang perasaannya pada Prawira. Seperti pinang, di sebuah sisi sosok Wira sudah menjadi celaka bagi Dinda. Mendengar namanya seperti mendengar petir, hadir hawanya seperti mimpi buruk. Takut. Wira merupakan tersangka pelecehan seksual pada teman. Di sisi lain, Dinda membayangkan bahwa Wira yang ia kenal. Orang baik yang sedikit genit, namun selalu ada di balik punggungnya dengan diam. Memeluk pinggangnya agar aman dari orang asing. Lalu bagaimana jika si Pria ini tidak merasa berdosa? Atau tidak menyadarinya? Ampun. Itu saja sebenarnya yang jadi buah pikiran Adinda tentang Wira. Mungkin begitu kodratnya wanita, selalu menyelipkan maaf juga pada yang tak berdaulat.

Kini, lama sudah nama Prawira hilang dari jagat saya. Entah, mungkin Pria ini merasa bersalah lantas pergi dari lingkup Adinda, mungkin juga ia enggan berkomunikasi dengan saya. Jelas tampaknya kalau ia luka juga. Bagaimana tidak, sebulan lebih ia berusaha menghubungi Adinda malah berakhir dengan Adinda memutusnya. Anggaplah ia tidak tahu salahnya, maka di matanya Adinda telah berdosa padanya. Namun ia tidak dapat mengikat Dinda dalam belenggunya, mengingat kekasih pun bukan. Jika dalam kesempatan lain Prawira memang jatuh cinta pada Dinda, tidak dapat saya bayangkan betapa luka hatinya dalam serakah. Bukankah, kehilangan yang pernah tergenggam paling menyakitkan?

Saya jadi ingat cerita Wira, tentang bagaimana ia menanti gadis itu berjam-jam di kampusnya, hanya agar Adinda mau mengajarinya memainkan alat musik, dan bagaimana Adinda lupa cara main musik ketika sampai di rumah Wira. Akhirnya mereka menghabiskan malam di suatu kafe di jalan Menteng, yang diselingi dengan telepon panjang dan kebohongannya pada kekasihnya. Sekarang, Wira hanya bisa mengingat-ingat, dan berharap Adinda tutup mulut.

Apa dayanya, nasi sudah menjadi bubur. Bukan hak saya mengatakan siapa bersalah, walau sudah jelas siapa. Manusia saling menjadi asing, penasaran jadi sangsi, rasa rindu pun  jadi tak ingin bertemu. “Seandainya, aku tidak mengenal dirimu.”

Seminggu yang lalu, linglung yang meresahkan masing-masing dari Dinda dan Wira, akhirnya hanya diakhiri dengan suatu pertanyaan;

“Sombong sekali Dinda? Tidak membalas pesan saya.”

 -blokir-

Tamat

 

Diambil dari kisah nyata

Jakarta, 11 November 2017

Anindhita Soekowati

Advertisements

Kelana Peraduan

Pada samudra tanpa kapal yang mampu berlayar;

Aku kekal dalam nafsu untuk menyentuh segalamu yang meruah dalam relungku:

Pada bahumu, tempat tanganku akan melingkar malam nanti

dan dagumu yang sejajar dengan ujung kepalaku;

yang di dalamnya berlalu lalang budiku untuk memilikimu

Pada dadamu, tempat aku hendak bersandar dalam sunyi

Dimana aku hendak bersembunyi, menjadikan kau sebaik-baiknya petualangan yang layak dijelajahi

Pada perutmu, di mana kita sama-sama kenyang dengan omong kosong, janji politik, dan kebohongan yang berserakan di beranda rumah tadi pagi

Pada kakimu yang bersentuhan dengan kakiku dalam selimut pasrah

Pada matamu yang menenggelamkan jemawaku, mendatangkan gemingku,

Lalu pada punggung yang membuatku merindu pada matamu

Dan pada rambut dan kulitmu yang ingin kubelai dan kukecup kasar halusnya

Pada tanganmu yang menghentikan gerakku;

Pada tanganmu yang berhenti di bibirku: menjadikan yang tersurat, tersirat

Dan padamu,

Tempat doa-doa sepertiga malamku setiap harinya berlabuh

Jakarta, 28 Maret 2017

Anindhita Soekowati

Empunya Malam

Dunia ini benarlah penuh akan kepura-puraan
Maka sayang, apalah itu nyata?

Aku pernah memiliki seorang kekasih yang teramat sangat jemawa. Ia berbadan kekar seperti binaragawan dan berambut undercut yang saat aku menuliskan kisah ini sedang menjadi sebuah tren. Ia tidak pintar, tidak. Kaya atau pun punya jabatan pun tidak. Maka jangan Anda tanya mengapa aku mau berkekasih ia, anggap saja saat itu aku masih polos dan lugu; berpikir kalau cinta dan kasih itu hanya tentang rasa dan bukan tentang bibit, bebet, bobotnya. Apalah rasa? Suatu saat ia bisa pudar dimakan waktu dan prasangka. Apalah cinta? Paling yang ia sisakan hanya luka dan rindu, yang di mana semuanya bermuara pada malam. Meski begitu, seseorang jemawa yang pernah menjadi kekasihku itu pernah menjanjikan suatu hal yang besar padaku, yang tak bisa dijanjikan manusia lain dalam tidak adilnya ragu.

“Neng, Kepunyaan siapakah malam itu?”
“Aku tidak tahu, Bang”.
“Kepunyaan saya tentunya! Malam punya saya, Neng” Ia terkikik bangga. “Neng menyenangi malam, bukan?”
Aku mengangguk, sedikit terkagum.
“Neng, saya bukan orang yang punya banyak duit atau kaya raya banyak harta benda, namun malam adalah kepunyaan saya!” Ia terdiam sebentar, memandang langit yang selalu berbintang bila ia yang memandang, sambil mengisap rokok Dji Sam Soenya yang tinggal setengah itu, lalu ia hembuskan asap rokoknya sehingga menjadi bagian dari langit malam penuh bintang, dan membentuk suatu mosi indah seperti wanita yang sedang menari dengan gemulai. “Kalau Neng berpikir tentang malam berbintang yang kita pandang itu, Neng betul! Malam yang sedang kita pandangi itu adalah kepunyaan saya. Malam yang biasa jadi peraduan manusia untuk meraung-raung dalam sendu, bisu, dan hasrat rindu.”

Pada saat itu, aku yang lugu dan tidak peduli akan bibit, bebet, dan bobot itu benar terkagum-kagum akan perkataannya. Siapa yang tidak bangga berkekasih empunya malam? Itu berarti aku punya kekasih yang juga empunya rindu, sehingga jikalau aku mau merindu, itu dapat diatur kapan saja. Apa lagi yang dapat ditawarkan seorang kekasih jika bukan itu? Bukankah rindu adalah musuh terberat cinta? Atau apakah aku salah?

Sejak saat itu, aku selalu bangga bercerita pada siapa saja mengenai lelaki berbadan kekar dengan potongan rambut kekinian itu. Saat itu, aku akan bercerita pada siapa saja jika kekasihku adalah empunya malam, dan aku tidak perlu rindu jika aku tidak mau. Siapalah yang tidak iri dengan kemegahan dan kemewahan semacam itu? Sebagian besar orang yang mendengar ceritaku akan memuji-muji minta dikenalkan dengan lelaki yang tidak pintar itu. Sebagian lagi iri, dan sisanya skeptis terhadap pernyataanku, mengatakan bahwa kekasihku itu penipu. Biarlah, aku tidak peduli. Yang penting ia yang punya malam, dan aku yang lugu dan polos akan selalu percaya; aku tidak pernah rindu jika aku tidak mau, malam bukanlah peraduan sendu, aku…. adalah kekasih empunya malam. Berbintang atau tidaknya malam bisa jadi tergantung padaku. Anda paham bukan, bahwa ada tiga hal yang dapat membuat manusia takluk, bertekuk lutut, lalu memulai peperangan: harta, wanita, dan takhta. Lalu tambahlah tiga hal tadi dengan cinta. Sempurna bukan? Aku adalah kekasih dengan takhta, harta, berwujud wanita, yang setidaknya pada saat itu dicintainya. Sempurna.

Suatu malam aku bertengkar dengan Bapakku, dasar aku yang polos dan tidak peduli akan bibit, bebet, dan bobot, kukatakan padanya jika hanya lelaki yang saat itu jadi kekasihku yang aku mau, lelaki kekar empunya malam. Bapak tanyakan padaku kenapa aku mau dengan lelaki macam itu, sudah jelas tidak bisa menafkahi, tidak jelas jika benar-benar mencintai atau hanya birahi. Aku marah. Aku katakan pada Bapak bila akan kubuktikan jika lelaki itu benar-benar empunya malam. Kuminta Bapak menengadah ke langit sepanjang malam, selagi aku berlari dari rumah menuju teras, mengendarai mobil chevrolet-ku, mengarah ke jalan raya.

“Bapak lihat saja langit jika tidak percaya! Aku sudah dewasa, kapan Bapak percaya padaku?” Kataku marah sambil membanting pintu;

Aku melaju secepat yang aku mampu, kuhubungi lelaki tidak pintar dan tidak kaya yang berbadan binaragawan dan berambut kekinian itu. Kukatakan jika aku membutuhkannya untuk melakukan sesuatu, awalnya ia menjawabku. Selanjutnya, ketika aku katakan padanya tolong buat malam itu dibanjiri bintang; buatlah satu-dua bintang jatuh malam itu, serta buat bapakku tidak rindu akan hadirnya ibu malam itu, ia hilang. Aku telepon ia melalui berbagai macam media komunikasi, tidak ada yang sampai, tidak ada yang terjawab.

“Jikalau Neng ingin melihat saya, pandanglah malam. Malam itu kepunyaan saya, Neng pasti dapat menemukan saya di antara malam”.

Demikianlah kata-kata yang ia janjikan.

Maka, kali ini aku gas mobilku dengan kecepatan yang tak dapat dibayangkan manusia. Kucari lelaki itu di antara malam yang semakin mendung. Jalan raya sepi serasa milikku sendiri. Malam semakin larut dan semakin membuat hanyut. Malam kali ini benar-benar membuat takut. Aku dirundung rindu dan amarah yang luar biasa pada lelaki penipu itu; kucari ia ke setiap sudut malam baik di darat, laut, ataupun langit namun ia raib layaknya tak pernah ada. Ia hanya pura-pura, dan aku adalah korban kepura-puraan. Malam benar-benar gelap, tidak ada bintang, apalagi kebanjiran bintang. Kejatuhan bintang? Mimpi! Kali ini, Kemanakah ia? Kemanakah perginya malam yang ia janjikan? Jika malam sebenarnya bukan miliknya, maka kepunyaan siapa malam itu? Jika ada yang punya, temuilah aku, jadikan aku mempelaimu karena aku sangat ingin memiliki malam.

Akhirnya, ketika malam sudah mau habis, aku putar balik mobilku ke arah pulang. Apakah Bapak masih menengadah menatap langit?

Setibanya aku di pagar rumah, kutemukan Bapak setengah tertidur pada sebuah kursi yang ia geret dari rumah menuju pagar. Bapak tidak menengadah pada langit, Bapak menatap jalan depan rumah yang gelap gulita dipenuhi malam hingga jalanan tersebut terasa sesak. Tak perlulah langit dibanjiri bintang atau bumi dijatuhi meteor untuk merasakan malam. Cukup Anda merasa khawatir dan rindu, yang lalu diiringi dengan melodi sendu dan biru akan malam yang tak kunjung usai karena menunggu gadis lugu Anda yang sok tahu tak kunjung pulang. Malam itu, aku menyaksikan Bapakku lah empunya malam, tak perlu aku jauh-jauh cari pada jiwa lain, karena selama ini malam begitu dekat. Banyak orang akan berpura-pura untuk mendapatkan keinginannya, untuk membenarkan kesalahannya, namun Bapak tidak akan pernah berpura-pura pada gadisnya.

Fajar pun tiba dengan segenap harapannya, kurangkul Bapak masuk ke rumah agar ia dapat tidur nyaman di serambinya. Lalu, kutanya padanya:

“Bapak, kenapa Bapak tidak bilang kalau Bapak empunya malam padaku?”
“Gadisku, siapa bilang jika aku empunya malam? Tidak, aku bahkan tak mengenal siapa dan apa malam itu hingga tadi kala aku menantimu. Malam mendatangiku, memintaku jadi teman, ia katakan jika ia berharap ia dapat menemaniku menunggumu pulang. Maka, bertemanlah aku dengan malam sejak itu”

Aku tulis kisah ini mengenang suatu perjalanan yang ditemani malam. Aku tahu kini jika malam bukanlah soal kepunyaan, malam bukan barang yang dapat dijualbelikan. Jika ada lagi Anda dengar atau temukan seseorang mengaku memiliki malam, hendaknya Anda jangan lekas percaya. Jangan lugu sepertiku yang tidak peduli akan bibit, bebet, dan bobotnya. Malam adalah teman, suatu peraduan untuk sendunya, birunya, bisunya, dan hasratnya rindu.

Tentang lelaki bertubuh kekar, berambut kekinian yang ternyata penipu itu? Aku tak pernah dengar lagi tentangnya. Dan sebenarnya, aku pun tak benar-benar peduli. Dunia ini benarlah penuh akan kepura-puraan, di antaranya bersembunyi hal-hal tulus dan nyata yang dapat ditemukan jika Anda cukup jeli melihatnya. Mungkin tulus dan nyata itu dekat, mungkin ia harus kau cari ke seantero semesta, atau mungkin ia benar-benar gajah di pelupuk matamu. Seperti malam, selalu ada setiap saat tanpa perlu kau nanti, namun tak benar-benar nyata siapa yang punya, karena memang ia tidak ada empunya, melainkan teman bagi ia yang menunggunya.

Blitar, 18 Januari 201
Anindhita Soekowati

Senja di Ujung Ilalang

Di antara ilalang, aku memandang jauh kehamparan hijau tak berujung tanpamu disetiap incinya.

Bulan pernah bertanya pada lautan apakah ia pernah merindukan bintang, namun lautan hanya menjawab dengan senyuman yang dalam, diteruskan gulung ombak yang menyuarakan luka dan tangisan akan cinta yang tak kunjung terjadi.

Lalu andaikan, bahwa engkau bintang dan aku lautan.

Di antara ilalang, angin menerpa, menjauhkanku dari keramaian, dengan niatan menggapaimu yang katanya berada di ujung hijau. Aku masih ingat, menemuimu dalam penasaranku yang berujung petaka. Engkau berjalan satu, dua langkah, lalu berhenti. Membalikan badanmu menghadapku, seraya memutar balik perasaanku dari ingin tahu jadi ingin kamu. Matamu yang dangkal menatapku tanpa arti walau mengajakku bicara sepanjang hari. Nyatanya, apa pun yang terjadi saat itu, berhasil membuat lautan jatuh hati pada bintang.

Bintang membayang-bayangi lautan saat malam, menyanyikan kisah-kisah bahagia tentang sanak saudara. Menyenandungkan lagu cinta entah untuk siapa. Lautan pernah berdebur pada bulan, bahwa laut tanpa bintang membuat nelayan hilang arah, sebagaimana lautan yang hilang dalamnya; hanya bisa menganga berteriak “Bintang! Cepat keluar! Menarilah bersamaku, Bintang! Oh, Bintang!

Aku ingat pula, bagaimana aku mengikutimu menjelajahi hijau yang lama-kelamaan terwarnai senja, sehingga ilalang menjadi keemasan. Rambutmu yang panjangnya tanggung akan bergoyang ke kanan-kiri selayaknya tanganmu yang berayun diantara kebebasan dan belenggu. Aku tergopoh-gopoh mengejarmu, yang berlari menuju habisnya waktu.

Habisnya waktu:

Waktuku habis mengejarmu, yang tak tahu engkau dikejar.

Atau memang, waktu di bumi sudah semakin menipis, sehingga tak sewajarnya kuhabiskan untuk mengejarnya yang sibuk mengejar matahari?

Suatu malam, ketika bulan sedang sabit, hujan mengguyur lautan dan menyelimutinya dengan abu-abu. Hujan datang ditemani petir, ditemani angin yang teramat dingin. Malam memuram, menembuskan gelapnya pada samudera lautan yang sudah teramat kelam. Laut merindukan bintang. Namun ternyata alam berkehendak menunda rindu tersebut lebih lama lagi.

 

Bintang yang hanya sisa kerlipnya,

Bintang yang hanya banyak bicara dan bernyanyi saja,

Adalah bintang yang membuat laut rindu gelapnya,

Adalah bintang yang menyentuh lembut sisi paling rumit laut tanpa riak.

 

Aku bicara padamu, memohon; “Berhenti”. Namun dasar kepala batu, engkau malah semakin sibuk berlari, menuju ujung hijau yang diawang-awang. Tolong, lihat aku yang terengah-engah, kehabisan napas, mengejarmu yang merenta, dimakan waktu.

Senja menua, laut mengisakkan usia.

 

Pada cinta yang tak kunjung tiba, atau memang hanya diangan saja,

Kusinggahkan do’a pada Tuhan maha Cinta.

 

Jakarta, 22 November 2016

Anindhita Soekowati

Masalah

4258917692_0a7c848858_z

Masalah ada, dan selalu bertumbuh. Ketika kau hindari ia, tak jarang di lain waktu ia akan kau jumpai. Aku tidak mengatakan bahwa solusi terbaiknya adalah untuk menghadapi hal tersebut, namun alangkah baik jika kau tidak perlu bertemu masalah itu berulang kali.

Namun aku bodoh, aku bertemu dengan masalahku tiap hari.

Hari ini, aku memutuskan untuk menghindarinya. Pagi ketika matahari masih tidur dan belum mengintip dari sela-sela langit yang akan berwarna kebiruan, aku membawa pergi masalahku ke suatu tempat yang jelas dimana masalahku tidak bertambah besar, setidaknya tidak dengan cara yang buruk. Ibu yang tidak sempat kutanyakan namanya itu menemuiku di depan pasar tempat aku bekerja, beramai-ramai datang bersama pemborong sayur untuk pasar swalayan yang kekurangan stok jengkolnya. Ia datang, membawa pergi Masalah dan mengatakan kalau aku bisa menemuinya kapan saja aku mau. Namun aku tidak mau. Untuk apa? Nanti saja, jika memang waktu mempertemukan dua kisah yang memang seharusnya menjadi satu kesatuan dari potongan puzzle.

“Akan aku rawat ia dengan baik, kamu jangan khawatir. Ia akan disayang oleh orang-orang di lingkunganku.”

“Semoga saja begitu, Bu. Bagaimanapun, aku berterima kasih.” Jawabku. “Aku harus pergi, sampai jumpa suatu hari nanti.”

Kutinggalkan mereka berdua, Masalah dan Ibu tanpa nama yang tak juga ingin kucari tahu namanya. Aku tinggalkan mereka berdua dengan segenap rasa lega dan rasa khawatir bahwa ini adalah pilihan yang salah. Salah karena masalah tidak seharusnya dihindari. Namun benar juga sebenarnya, karena aku tidak bisa mengurus masalah itu sendiri sejak laki-laki sialan itu bunuh diri.

Laki-laki itu bunuh diri sebulan sejak masalah itu ada, tidak tahu apa asal-muasalanya, yang jelas begitu aku pulang dari pasar ia sudah tak sadarkan diri. Bukan minum baigon, lelaki goblok itu lebih pintar dari itu. Bukan juga menyilet diri sendiri hingga berdarah-darah, melainkan gantung diri. Mungkin ia tidak bunuh diri dengan cara kebanyakan minum obat karena memang kami tidak punya uang untuk beli obat, sedangkan di rumah kami ada tali, tidak tahu juga ia dapat darimana. Ia mati, meninggalkanku dengan masalah. Padahal, sudah kuberi tahu ia, kalau mau menghamiliku, jangan mati dulu! Kau pikir aku tidak kewalahan apa, mengurus anak sendirian? Dasar laki-laki pecinta kelamin! Sudah tahu tidak bisa menghidupiku, menghidupi anakmu yang baru satu bulan, kenapa kau jadikan kita bertiga satu keluarga, Mas? Dasar laki-laki. Maaf, aku selalu merasa kesal ketika membicarakannya, rasanya serasa bicara berdua dengannya. Itu juga penyebab aku tidak pernah merasa sepi atau berdua sejak ia tinggal, tanpa kehadirannya saja ia mengganggu, apalagi dengan kehadirannya? Yah, walaupun begitu kadang waktu ia belum mati, ia membawakan aku uang yang cukup untuk aku dan Masalah makan setidaknya dua hari sekali. Lebih seringnya sih ia memberi aku makan, karena ia punya pekerjaan tetap sebagai seorang kenek metromini. Jika ada yang salah, yang salah jelas aku karena kenapa aku begitu naif bisa jatuh cinta dengan orang seperti itu.

Semua telah terjadi, ia terlanjur menghamiliku dan menjadi bapak dari Masalah. Masalah saat ini usianya satu bulan. Rambutnya keriting, matanya bening sebening air yang hanya kau temui di pegunungan, dan kulitnya kenyal, walaupun aku jarang memberinya nutrisi yang baik: setiap hari hanya kerupuk dan nasi. Aku sangat mencintai Masalah walaupun ia telah menjadi masalah dalam hidupku. Benar-benar wujud nyata dari masalah.

“masalah/ma·sa·lah/ n sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan); soal; persoalan”

Aku mungkin tidak sekolah tinggi, namun aku tahu bahwa anakku ini adalah suatu persoalan bagiku, jiwaku, ekonomiku, dan aku harus menyelesaikannya dengan menjadikan ia wanita yang berguna bagi negara yang sudah menjadikan aku sampahnya, yang bahkan tak seorangpun sadar kalau aku kekurangan dan butuh makan. Tanggung jawab itu begitu besar, sehingga menjadikan Masalah besar sebelum usianya. Maka dari itu, aku putuskan untuk menghindarinya saat ini. Nanti, jika kisah kami, aku dan Masalah, dipertemukan oleh semesta yang ruwet sekali permainannya, aku akan menemuinya. Aku yakin Masalah akan menjadi orang besar pada zamannya. Aku yakin betul akan hal itu. Bapaknya mungkin kenek metromini, dan Ibunya mungkin hanya jualan kantong plastik eceran di pasar yang sering kali sia-sia, namun anak ini akan menjadi anak hebat. Masalah tidak akan lagi dinamai Masalah, mungkin ia akan dinamai oleh orang-orang W.S. Trimurti. Mungkin ia akan dinamai Nana, mungkin ia akan dinamai Laras, ataupun nama Masalah itu sendiri. Yang pasti, kali ini jawaban terbaik untuk masalahku adalah menghindarinya.

Sekali lagi.

Masalah ada, dan selalu bertumbuh. Ketika kau hindari ia, tak jarang di lain waktu ia akan kau jumpai. Aku tidak mengatakan bahwa solusi terbaiknya adalah untuk menghadapi hal tersebut, namun aku juga tidak mengatakan menghadapinya adalah solusi terbaik. Seperti Masalahku, jikalau saat ini kuhadapi ia, mungkin ia justru benar-benar menjadi masalah dan sampah untuk bangsa. Namun jika kuhindari ia saat ini, mungkin suatu saat nanti, di lain waktu ketika aku jumpai, Masalah berubah menjadi orang yang mengurus masalah-masalah di negeri ini.

 

Minggu, 21 Agustus 2016

Anindhita Soekowati

Photo source: https://www.flickr.com/photos/brjkt/4258917692

 

Terbang Seperti Ayam

Untuk mati hari ini,

Aku butuh sunyi sangat sunyi, yang bahkan teriakanku sendiri jadi sepi

Agar malam nanti ketika nyawa tak lagi mampir, biar aku busuk sendiri

Agar mati gadis ini rahasianya sendiri

Begitu juga dengan mimpi dan pijakannya

Untuk tidur hari ini,

Aku butuh senandung yang menyanjung, sangat menyanjung bahkan aku dibawa pergi dari sepi

Agar soreku yang tinggal senja, hilang diantara mega-mega merah yang bersahaja dengan damai dan tenang

Agar tidurku nyenyak tanpa kamu yang membuat penat

Begitu juga dengan asa yang tidak lagi jadi harapan

Untuk hidup hari ini

Aku butuh khayal yang tidak masuk akal, saking tidak masuk akalnya aku ingin belajar terbang seperti ayam

Agar pagiku terang, bukan lagi fajar yang cuma numpang lewat

Agar hidup bukan cuma keharusan atau retorika, namun suatu penjiwaan makhluk pada penciptanya

Siapa tahu nanti aku hidup selamanya