Kelana Peraduan

Pada samudra tanpa kapal yang mampu berlayar;

Aku kekal dalam nafsu untuk menyentuh segalamu yang meruah dalam relungku:

Pada bahumu, tempat tanganku akan melingkar malam nanti

dan dagumu yang sejajar dengan ujung kepalaku;

yang di dalamnya berlalu lalang budiku untuk memilikimu

Pada dadamu, tempat aku hendak bersandar dalam sunyi

Dimana aku hendak bersembunyi, menjadikan kau sebaik-baiknya petualangan yang layak dijelajahi

Pada perutmu, di mana kita sama-sama kenyang dengan omong kosong, janji politik, dan kebohongan yang berserakan di beranda rumah tadi pagi

Pada kakimu yang bersentuhan dengan kakiku dalam selimut pasrah

Pada matamu yang menenggelamkan jemawaku, mendatangkan gemingku,

Lalu pada punggung yang membuatku merindu pada matamu

Dan pada rambut dan kulitmu yang ingin kubelai dan kukecup kasar halusnya

Pada tanganmu yang menghentikan gerakku;

Pada tanganmu yang berhenti di bibirku: menjadikan yang tersurat, tersirat

Dan padamu,

Tempat doa-doa sepertiga malamku setiap harinya berlabuh

Jakarta, 28 Maret 2017

Anindhita Soekowati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s