Empunya Malam

Dunia ini benarlah penuh akan kepura-puraan
Maka sayang, apalah itu nyata?

Aku pernah memiliki seorang kekasih yang teramat sangat jemawa. Ia berbadan kekar seperti binaragawan dan berambut undercut yang saat aku menuliskan kisah ini sedang menjadi sebuah tren. Ia tidak pintar, tidak. Kaya atau pun punya jabatan pun tidak. Maka jangan Anda tanya mengapa aku mau berkekasih ia, anggap saja saat itu aku masih polos dan lugu; berpikir kalau cinta dan kasih itu hanya tentang rasa dan bukan tentang bibit, bebet, bobotnya. Apalah rasa? Suatu saat ia bisa pudar dimakan waktu dan prasangka. Apalah cinta? Paling yang ia sisakan hanya luka dan rindu, yang di mana semuanya bermuara pada malam. Meski begitu, seseorang jemawa yang pernah menjadi kekasihku itu pernah menjanjikan suatu hal yang besar padaku, yang tak bisa dijanjikan manusia lain dalam tidak adilnya ragu.

“Neng, Kepunyaan siapakah malam itu?”
“Aku tidak tahu, Bang”.
“Kepunyaan saya tentunya! Malam punya saya, Neng” Ia terkikik bangga. “Neng menyenangi malam, bukan?”
Aku mengangguk, sedikit terkagum.
“Neng, saya bukan orang yang punya banyak duit atau kaya raya banyak harta benda, namun malam adalah kepunyaan saya!” Ia terdiam sebentar, memandang langit yang selalu berbintang bila ia yang memandang, sambil mengisap rokok Dji Sam Soenya yang tinggal setengah itu, lalu ia hembuskan asap rokoknya sehingga menjadi bagian dari langit malam penuh bintang, dan membentuk suatu mosi indah seperti wanita yang sedang menari dengan gemulai. “Kalau Neng berpikir tentang malam berbintang yang kita pandang itu, Neng betul! Malam yang sedang kita pandangi itu adalah kepunyaan saya. Malam yang biasa jadi peraduan manusia untuk meraung-raung dalam sendu, bisu, dan hasrat rindu.”

Pada saat itu, aku yang lugu dan tidak peduli akan bibit, bebet, dan bobot itu benar terkagum-kagum akan perkataannya. Siapa yang tidak bangga berkekasih empunya malam? Itu berarti aku punya kekasih yang juga empunya rindu, sehingga jikalau aku mau merindu, itu dapat diatur kapan saja. Apa lagi yang dapat ditawarkan seorang kekasih jika bukan itu? Bukankah rindu adalah musuh terberat cinta? Atau apakah aku salah?

Sejak saat itu, aku selalu bangga bercerita pada siapa saja mengenai lelaki berbadan kekar dengan potongan rambut kekinian itu. Saat itu, aku akan bercerita pada siapa saja jika kekasihku adalah empunya malam, dan aku tidak perlu rindu jika aku tidak mau. Siapalah yang tidak iri dengan kemegahan dan kemewahan semacam itu? Sebagian besar orang yang mendengar ceritaku akan memuji-muji minta dikenalkan dengan lelaki yang tidak pintar itu. Sebagian lagi iri, dan sisanya skeptis terhadap pernyataanku, mengatakan bahwa kekasihku itu penipu. Biarlah, aku tidak peduli. Yang penting ia yang punya malam, dan aku yang lugu dan polos akan selalu percaya; aku tidak pernah rindu jika aku tidak mau, malam bukanlah peraduan sendu, aku…. adalah kekasih empunya malam. Berbintang atau tidaknya malam bisa jadi tergantung padaku. Anda paham bukan, bahwa ada tiga hal yang dapat membuat manusia takluk, bertekuk lutut, lalu memulai peperangan: harta, wanita, dan takhta. Lalu tambahlah tiga hal tadi dengan cinta. Sempurna bukan? Aku adalah kekasih dengan takhta, harta, berwujud wanita, yang setidaknya pada saat itu dicintainya. Sempurna.

Suatu malam aku bertengkar dengan Bapakku, dasar aku yang polos dan tidak peduli akan bibit, bebet, dan bobot, kukatakan padanya jika hanya lelaki yang saat itu jadi kekasihku yang aku mau, lelaki kekar empunya malam. Bapak tanyakan padaku kenapa aku mau dengan lelaki macam itu, sudah jelas tidak bisa menafkahi, tidak jelas jika benar-benar mencintai atau hanya birahi. Aku marah. Aku katakan pada Bapak bila akan kubuktikan jika lelaki itu benar-benar empunya malam. Kuminta Bapak menengadah ke langit sepanjang malam, selagi aku berlari dari rumah menuju teras, mengendarai mobil chevrolet-ku, mengarah ke jalan raya.

“Bapak lihat saja langit jika tidak percaya! Aku sudah dewasa, kapan Bapak percaya padaku?” Kataku marah sambil membanting pintu;

Aku melaju secepat yang aku mampu, kuhubungi lelaki tidak pintar dan tidak kaya yang berbadan binaragawan dan berambut kekinian itu. Kukatakan jika aku membutuhkannya untuk melakukan sesuatu, awalnya ia menjawabku. Selanjutnya, ketika aku katakan padanya tolong buat malam itu dibanjiri bintang; buatlah satu-dua bintang jatuh malam itu, serta buat bapakku tidak rindu akan hadirnya ibu malam itu, ia hilang. Aku telepon ia melalui berbagai macam media komunikasi, tidak ada yang sampai, tidak ada yang terjawab.

“Jikalau Neng ingin melihat saya, pandanglah malam. Malam itu kepunyaan saya, Neng pasti dapat menemukan saya di antara malam”.

Demikianlah kata-kata yang ia janjikan.

Maka, kali ini aku gas mobilku dengan kecepatan yang tak dapat dibayangkan manusia. Kucari lelaki itu di antara malam yang semakin mendung. Jalan raya sepi serasa milikku sendiri. Malam semakin larut dan semakin membuat hanyut. Malam kali ini benar-benar membuat takut. Aku dirundung rindu dan amarah yang luar biasa pada lelaki penipu itu; kucari ia ke setiap sudut malam baik di darat, laut, ataupun langit namun ia raib layaknya tak pernah ada. Ia hanya pura-pura, dan aku adalah korban kepura-puraan. Malam benar-benar gelap, tidak ada bintang, apalagi kebanjiran bintang. Kejatuhan bintang? Mimpi! Kali ini, Kemanakah ia? Kemanakah perginya malam yang ia janjikan? Jika malam sebenarnya bukan miliknya, maka kepunyaan siapa malam itu? Jika ada yang punya, temuilah aku, jadikan aku mempelaimu karena aku sangat ingin memiliki malam.

Akhirnya, ketika malam sudah mau habis, aku putar balik mobilku ke arah pulang. Apakah Bapak masih menengadah menatap langit?

Setibanya aku di pagar rumah, kutemukan Bapak setengah tertidur pada sebuah kursi yang ia geret dari rumah menuju pagar. Bapak tidak menengadah pada langit, Bapak menatap jalan depan rumah yang gelap gulita dipenuhi malam hingga jalanan tersebut terasa sesak. Tak perlulah langit dibanjiri bintang atau bumi dijatuhi meteor untuk merasakan malam. Cukup Anda merasa khawatir dan rindu, yang lalu diiringi dengan melodi sendu dan biru akan malam yang tak kunjung usai karena menunggu gadis lugu Anda yang sok tahu tak kunjung pulang. Malam itu, aku menyaksikan Bapakku lah empunya malam, tak perlu aku jauh-jauh cari pada jiwa lain, karena selama ini malam begitu dekat. Banyak orang akan berpura-pura untuk mendapatkan keinginannya, untuk membenarkan kesalahannya, namun Bapak tidak akan pernah berpura-pura pada gadisnya.

Fajar pun tiba dengan segenap harapannya, kurangkul Bapak masuk ke rumah agar ia dapat tidur nyaman di serambinya. Lalu, kutanya padanya:

“Bapak, kenapa Bapak tidak bilang kalau Bapak empunya malam padaku?”
“Gadisku, siapa bilang jika aku empunya malam? Tidak, aku bahkan tak mengenal siapa dan apa malam itu hingga tadi kala aku menantimu. Malam mendatangiku, memintaku jadi teman, ia katakan jika ia berharap ia dapat menemaniku menunggumu pulang. Maka, bertemanlah aku dengan malam sejak itu”

Aku tulis kisah ini mengenang suatu perjalanan yang ditemani malam. Aku tahu kini jika malam bukanlah soal kepunyaan, malam bukan barang yang dapat dijualbelikan. Jika ada lagi Anda dengar atau temukan seseorang mengaku memiliki malam, hendaknya Anda jangan lekas percaya. Jangan lugu sepertiku yang tidak peduli akan bibit, bebet, dan bobotnya. Malam adalah teman, suatu peraduan untuk sendunya, birunya, bisunya, dan hasratnya rindu.

Tentang lelaki bertubuh kekar, berambut kekinian yang ternyata penipu itu? Aku tak pernah dengar lagi tentangnya. Dan sebenarnya, aku pun tak benar-benar peduli. Dunia ini benarlah penuh akan kepura-puraan, di antaranya bersembunyi hal-hal tulus dan nyata yang dapat ditemukan jika Anda cukup jeli melihatnya. Mungkin tulus dan nyata itu dekat, mungkin ia harus kau cari ke seantero semesta, atau mungkin ia benar-benar gajah di pelupuk matamu. Seperti malam, selalu ada setiap saat tanpa perlu kau nanti, namun tak benar-benar nyata siapa yang punya, karena memang ia tidak ada empunya, melainkan teman bagi ia yang menunggunya.

Blitar, 18 Januari 201
Anindhita Soekowati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s