Masalah

4258917692_0a7c848858_z

Masalah ada, dan selalu bertumbuh. Ketika kau hindari ia, tak jarang di lain waktu ia akan kau jumpai. Aku tidak mengatakan bahwa solusi terbaiknya adalah untuk menghadapi hal tersebut, namun alangkah baik jika kau tidak perlu bertemu masalah itu berulang kali.

Namun aku bodoh, aku bertemu dengan masalahku tiap hari.

Hari ini, aku memutuskan untuk menghindarinya. Pagi ketika matahari masih tidur dan belum mengintip dari sela-sela langit yang akan berwarna kebiruan, aku membawa pergi masalahku ke suatu tempat yang jelas dimana masalahku tidak bertambah besar, setidaknya tidak dengan cara yang buruk. Ibu yang tidak sempat kutanyakan namanya itu menemuiku di depan pasar tempat aku bekerja, beramai-ramai datang bersama pemborong sayur untuk pasar swalayan yang kekurangan stok jengkolnya. Ia datang, membawa pergi Masalah dan mengatakan kalau aku bisa menemuinya kapan saja aku mau. Namun aku tidak mau. Untuk apa? Nanti saja, jika memang waktu mempertemukan dua kisah yang memang seharusnya menjadi satu kesatuan dari potongan puzzle.

“Akan aku rawat ia dengan baik, kamu jangan khawatir. Ia akan disayang oleh orang-orang di lingkunganku.”

“Semoga saja begitu, Bu. Bagaimanapun, aku berterima kasih.” Jawabku. “Aku harus pergi, sampai jumpa suatu hari nanti.”

Kutinggalkan mereka berdua, Masalah dan Ibu tanpa nama yang tak juga ingin kucari tahu namanya. Aku tinggalkan mereka berdua dengan segenap rasa lega dan rasa khawatir bahwa ini adalah pilihan yang salah. Salah karena masalah tidak seharusnya dihindari. Namun benar juga sebenarnya, karena aku tidak bisa mengurus masalah itu sendiri sejak laki-laki sialan itu bunuh diri.

Laki-laki itu bunuh diri sebulan sejak masalah itu ada, tidak tahu apa asal-muasalanya, yang jelas begitu aku pulang dari pasar ia sudah tak sadarkan diri. Bukan minum baigon, lelaki goblok itu lebih pintar dari itu. Bukan juga menyilet diri sendiri hingga berdarah-darah, melainkan gantung diri. Mungkin ia tidak bunuh diri dengan cara kebanyakan minum obat karena memang kami tidak punya uang untuk beli obat, sedangkan di rumah kami ada tali, tidak tahu juga ia dapat darimana. Ia mati, meninggalkanku dengan masalah. Padahal, sudah kuberi tahu ia, kalau mau menghamiliku, jangan mati dulu! Kau pikir aku tidak kewalahan apa, mengurus anak sendirian? Dasar laki-laki pecinta kelamin! Sudah tahu tidak bisa menghidupiku, menghidupi anakmu yang baru satu bulan, kenapa kau jadikan kita bertiga satu keluarga, Mas? Dasar laki-laki. Maaf, aku selalu merasa kesal ketika membicarakannya, rasanya serasa bicara berdua dengannya. Itu juga penyebab aku tidak pernah merasa sepi atau berdua sejak ia tinggal, tanpa kehadirannya saja ia mengganggu, apalagi dengan kehadirannya? Yah, walaupun begitu kadang waktu ia belum mati, ia membawakan aku uang yang cukup untuk aku dan Masalah makan setidaknya dua hari sekali. Lebih seringnya sih ia memberi aku makan, karena ia punya pekerjaan tetap sebagai seorang kenek metromini. Jika ada yang salah, yang salah jelas aku karena kenapa aku begitu naif bisa jatuh cinta dengan orang seperti itu.

Semua telah terjadi, ia terlanjur menghamiliku dan menjadi bapak dari Masalah. Masalah saat ini usianya satu bulan. Rambutnya keriting, matanya bening sebening air yang hanya kau temui di pegunungan, dan kulitnya kenyal, walaupun aku jarang memberinya nutrisi yang baik: setiap hari hanya kerupuk dan nasi. Aku sangat mencintai Masalah walaupun ia telah menjadi masalah dalam hidupku. Benar-benar wujud nyata dari masalah.

“masalah/ma·sa·lah/ n sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan); soal; persoalan”

Aku mungkin tidak sekolah tinggi, namun aku tahu bahwa anakku ini adalah suatu persoalan bagiku, jiwaku, ekonomiku, dan aku harus menyelesaikannya dengan menjadikan ia wanita yang berguna bagi negara yang sudah menjadikan aku sampahnya, yang bahkan tak seorangpun sadar kalau aku kekurangan dan butuh makan. Tanggung jawab itu begitu besar, sehingga menjadikan Masalah besar sebelum usianya. Maka dari itu, aku putuskan untuk menghindarinya saat ini. Nanti, jika kisah kami, aku dan Masalah, dipertemukan oleh semesta yang ruwet sekali permainannya, aku akan menemuinya. Aku yakin Masalah akan menjadi orang besar pada zamannya. Aku yakin betul akan hal itu. Bapaknya mungkin kenek metromini, dan Ibunya mungkin hanya jualan kantong plastik eceran di pasar yang sering kali sia-sia, namun anak ini akan menjadi anak hebat. Masalah tidak akan lagi dinamai Masalah, mungkin ia akan dinamai oleh orang-orang W.S. Trimurti. Mungkin ia akan dinamai Nana, mungkin ia akan dinamai Laras, ataupun nama Masalah itu sendiri. Yang pasti, kali ini jawaban terbaik untuk masalahku adalah menghindarinya.

Sekali lagi.

Masalah ada, dan selalu bertumbuh. Ketika kau hindari ia, tak jarang di lain waktu ia akan kau jumpai. Aku tidak mengatakan bahwa solusi terbaiknya adalah untuk menghadapi hal tersebut, namun aku juga tidak mengatakan menghadapinya adalah solusi terbaik. Seperti Masalahku, jikalau saat ini kuhadapi ia, mungkin ia justru benar-benar menjadi masalah dan sampah untuk bangsa. Namun jika kuhindari ia saat ini, mungkin suatu saat nanti, di lain waktu ketika aku jumpai, Masalah berubah menjadi orang yang mengurus masalah-masalah di negeri ini.

 

Minggu, 21 Agustus 2016

Anindhita Soekowati

Photo source: https://www.flickr.com/photos/brjkt/4258917692

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s