Hadiah Waktu

Aku menyalami seorang Pelukis Senja yang menggoreskan kuasnya pada mega-mega yang mulai menghilang. Habis ini ia pun hilang, digantikan malam yang akan mengisi hingga fajar menjelang. Dulu, ketika aku pertama kali bertemu dengannya, ia berjanji akan melukiskanku semesta, sehingga ia tidak akan pernah hilang terbawa malam, atau harus membuatku menunggu siang, hingga ia datang. Ia mengatakan bahwa ia adalah Pelukis Semesta paling ulung sehingga dua pertiga semesta yang kusaksikan adalah lukisannya. Ia membuktikannya padaku dengan menunjukkan bintang merah kesukaanku di langit, ia mengatakan bahwa ia pelukisnya. Ternyata, bintang merah di langit adalah senja yang akan datang setiap harinya, bersama dengannya, si Pelukis Senja.

Waktu, Waktu merupakan permainan alam yang paling ambigu dan selalu ditunggu-tunggu. Dalam dunia syair, Waktu adalah topik favorit kedua setelah kata yang paling bosan kudengar, yaitu cinta. Waktu adalah musuh dari rindu, namun teman setia kematian. Aku adalah pengikut Waktu, sehingga, aku dapat menikmati selalu karya-karya yang dihidangkan Waktu. Aku tidak pernah melawan Waktu, meskipun ia sering kali mengejarku. Ini juga cara aku bertemu dengan Pelukis Senja.

Dalam satu hari, Waktu akan menyediakan aku berbagai macam seni, mulai dari fajar, hingga malam lagi. Hanya satu yang tidak dapat dihidangkan waktu untukku, semesta. Saat fajar, Waktu menghadiahiku penyair hebat yang akan menyairkan sajak bangun tidur pagiku, agar sepanjang hariku menyenangkan. Aku tidak terlalu mengenal Penyair Fajar, namun aku sangat menyenanginya. Penyair Fajar selalu menjadi alasan senang-sedihku sepanjang hari. Namun begitu, aku hanyalah orang lain bagi Penyair Fajar, sebagaimana sajaknya bukanlah milikku, namun milik dunia.

Fajar datang dalam sempitnya waktu, karena ia segera digantikan oleh seorang teman lamaku, Pemusik Pagi. Pemusik Pagi akan menyenandungkan padaku lagu-lagu yang merasionalkan perasaanku. Pemusik Pagi adalah temanku berbagi asa yang telah kutimbun sehari sebelumnya. Ia adalah teman bergunjing paling seru, juga teman yang selalu ada di kala biru. Maka dari itu, pagi selalu menjadi waktu dimana hariku menjadi sangat produktif, atau sangat malas. Pagi, bukanlah tuntutan melainkan kewajiban yang harus berjalan. Aku sadar akan hal itu sejak kecil, sedari pertama aku bertemu Pemusik Pagi.

Lalu aku berpisah dengan Pemusik Pagi, yang pertemukanku dengan Pengukir Siang. Ia seorang penggerutu! Karyanya tidaklah indah, karyanya tidak spesial, sebagaimana siang yang tidak istimewa. Si Pengukir selalu marah-marah, membawa hawa panas pada hati yang juga gelisah. Untukku yang tidak suka Matahari, hadirnya Pengukir Siang justru membuat siangku semakin menyebalkan saja. Ia akan mengukirkanku sendu gelisahnya, namun ia tidak pernah mau mendengar ceritaku. Ia juga sering memburuku dengan Waktu, yang ia sebut sebagai inspirasinya. Hanya Pengukir Siang yang berani mengesalkan aku, ia tidak takut pada waktu, apalagi aku. Siang, adalah waktu dimana manusia berhamburan meriuh ke jalan, atau ke gedung-gedung tinggi di kota. Siang adalah teman urban, namun tenang di desa. Kurasa Pengukir Siang perlu kuajak ke desa, karena ketika siang, petani di desaku beristirahat dan menceritakan cerita jenaka yang membuat tertawa. Kurasa dengan begitu, siang akan menjadi tenang. Pengukir Siang menjadi senang.

Ketika Matahari mulai lingsir dari singgasananya, Kakek Sore datang membawa senyum dan lagak tawa. Aku mengenal Kakek Sore bersamaan dengan aku mengenal Pemusik Pagi. Kakek Sore merupakan seorang diplomat ulung pada zamannya. Sekarang, ia menjadi seorang pendongeng cerita masa mudanya. Seni yang selalu dapat aku nikmati, tanpa merasa tertuntut oleh tekanan paradigma masyarakat dimana seni harus nyeni. Kurasa, dengan Kakek Sore, seni bisa menjadi suatu hal yang lepas tanpa ikatan, karena aku cukup mendengarkannya, lalu hilang dalam imajinasiku sendiri, dalam semesta yang aku rindu-rindukan, namun hanya dapat dirindukan saja. Kakek Sore adalah seseorang yang dapat membuatku hilang dalam diriku sendiri, dalam suatu karsa yang tidak dapat dicipta orang lain. Hanya aku saja yang tahu. Aku senang, Kakek tidak memaksa untuk ingin tahu. Ia hanya bercerita, dan menunggu aku membagi bahagia. Ia juga menunggu aku tumbuh dewasa, sehingga aku tahu, bahwa setelah sore hilang, bukan malam menjelang, namun senjalah yang datang. Kakek menunggu aku dewasa, karena senja hanyalah milik remaja yang jatuh cinta.

Dan benar, aku tumbuh menjadi gadis polos, yang setiap Kakek Sore pergi, aku tetap menanti malam tiba untuk menjadi hadiah Waktu. Namun suatu hari, ketika waktu mulai menghadiahi aku dengan malam, aku dihampiri oleh seorang pelukis yang mengaku datang dari imajiku yang jauh, yang hanya dapat ditemui di sore hari. Ia datang dari semesta, karena ia adalah Pelukis Semesta. Ia datang dari dimensi yang mengalahkan waktu, sehingga ia tak lekang. Ia ada untuk selamanya.

Saat itu, di depan mataku yang masih polos dan lugu, Pelukis Semesta menawarkan aku tangannya, mengajakku pergi keluar batas waktu yang telah menghadiahiku segalanya. Dasar aku yang bodoh dan polos, aku terima saja tangannya, percaya ia dapat membayar rinduku pada semesta yang tidak pernah tersampaikan. Namun, ketika aku mengambil tangannya, ia tidak melukiskan semesta, ataupun planet-planet di angkasa. Ia meringkuk, menjadi bagian waktu, dan kunamai ia senja.

Kakek pernah bilang, aku akan jatuh cinta. Ketika aku jatuh cinta, aku akan bertemu senja. Senja tidak bisa menawarkanku keindahan semesta yang begitu rupa, namun senja dapat menjadi suatu kelegaan luar biasa di dada, layaknya sakura yang tidak mengapa bunganya gugur di musim gugur. Senja dapat membuatmu terluka berkali-kali, namun jatuh cinta berkali-kali juga. Senja bukan mainan anak kecil, senja adalah mainan kawula yang pikirannya melanglang jauh, mengarungi samudra, sembari menunggu senja hilang, digantikan malam. Karena memang, senja datang hanya sebentar, dalam hitungan detik ia hilang, dan menjadi kenangan. Begitu juga dengan Pelukis Senja, ia memelukmu sekejap saja, lalu hilang dibawa malam. Ia akan menyisakan buaiannya, sentuhan tangannya yang penuh cat di pipimu, menggoreskan warna oranye keemas-emasan, serta belaian lembut di rambutmu. Setelah itu ia hilang. Engkau harus menunggu lama lagi, hingga esok dapat bertemu dengan Pelukis Senja yang menjanjikan semesta itu. Walaupun begitu, aku percaya satu hal. Pelukis Senja dapat memberikanku semesta, karena semesta, adalah ruang yang sangat luas yang bahkan tidak dapat hatimu cukup menampungnya. Pelukis Senja merupakan pemimpi, namun ia bukan penipu.

 

Pelukis Senja hilang, meninggalkan ribuan kenangan yang ia sampaikan lewat matahari yang tenggelam. Ia mengantarku pada malam yang sungguh panjang, yang diisi oleh hadiah waktu, yaitu Penari Malam. Penari Malam bukanlah teman, juga bukanlah lawan. Penari Malam adalah pelabuhan setiap insan yang penuh khayalan. Ia akan menarikan mimpi-mimpi, dan juga menemanimu terjaga, ketika Waktu tidak cukup baik hati padamu untuk membuatmu terlelap. Penari Malam adalah cerminan luka-lukamu yang paling dalam, ia adalah wujud melankolis dari Waktu, yang sendirinya berharap ia boleh berhenti bekerja satu detik saja. Waktu bertanggung jawab pada seluruh dunia dan Tuhan untuk setiap menit yang dianugerahinya. Maka, ketika waktu datang bersama malam, ia menghadiahiku Penari Malam yang sesungguhnya wujud ceritaku dan ceritanya. Penari Malam, ia dapat menarikan tarian paling duniawi, dan ia pun dapat menarikan tarian paling surgawi. Penari Malam adalah bisu yang tidak disampaikan oleh bibir yang sudah terlalu banyak berkata. Ia akan menyampaikan ceritanya lewat gemulai geraknya yang selalu menyenangkan mata. Penari Malam adalah kepedihan, serta ketenangan yang paling syahdu, apalagi setelah aku bertemu senja. Malam, adalah teman setia jiwa-jiwa yang terluka.

Lalu, hari berganti. Waktu telah menganugrahiku berbagai macam seni, menjadi rutinitas yang aku patuhi. Bersama dengan datangnya waktu, aku menua, namun tidak semakin dewasa. Aku tetap menjadi aku yang tidak tahu diri, yang dengan senang menikmati seni anugrah waktu tanpa membayar sepeserpun. Meski begitu, waktu tetap setia, menemaniku yang mulai mati rasa. Ia tetap hadir bersama kisah-kisahnya. Menjadi tanya, bagi jiwa yang tersesat, atau jiwa yang menyusuri jalan pulangnya.

Bandung,

Senin, 13 Juni 2016

02:38 AM

Advertisements

One thought on “Hadiah Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s