NULL

Mungkin pada jam-jam sepi seperti ini,

Saat hanya satu dua mobil melintas di depan teras

Saat yang terdengar hanya siup-siup suara jangkrik

Di sebelah sana, sisi yang jauh

Ada yang memanggil namamu

Ada yang merindu

Ada yang dirindu

Ada yang benci pada rindu

 

Mungkin juga, pada jam jam menjelang bergantinya hari,

Ada yang sedang gundah gelisah

Ingin tidur tapi tak sampai

Ingin terjaga tapi raga sudah terlalu lelah

Ingin memeluk tapi ia sendiri saja

Ingin bercumbu tapi hanya pada angin ia bersua

Bimbang pada abstraknya rasa

 

Pada jam-jam dimana jam dinding mulai dari nol lagi

Ada doa yang disuarakan ibu untuk anaknya “ya Tuhan, lindungi ia yang saat ini jauh”

Ada doa yang dibisikkan suami untuk selingkuhannya “ya Tuhan, jangan sampai biniku tahu”

Ada doa yang disenandungkan oleh pemimpin untuk orang-orang yang membencinya “ya Tuhan, untuk mereka aku berjuang”

Ada juga doa para kekasih yang tidak tahu bagaimana lagi cara ia merasa “ya Tuhan, aku sangat mencintainya”

Dan tentu, ada juga orang-orang yang sudah mati rasa pada Tuhan dan menghisap rokok, mempertanyakan segala tanya yang tak sanggup terjangkau

 

Yang pasti,

Pada jam-jam ini,

Ada aku yang masih terjaga

Mengingatmu yang juga terjaga

Memberimu butir-butir doa dari ruang yang dapat kujangkau

Demi egoku

Untuk memberi makan jiwamu

Dan agar kau kangen padaku

 

Selamat jam duabelas dini hari untukmu

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s