Pelanggan Ketiga

IMG_5676“Karena cinta, seharusnya tak bersyarat, tak bernama, dan tidak banyak permintaan.”

***

“Siapa dia?”, Ucap Rere sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Pelanggan ketiga.”, Jawabku.

“Apakah kalian tidak bertukar nama?”, tanya Rere lagi.

“Untuk apa? Kita tidak punya alasan.”

“Siapa tahu jodohmu.”

“Kau dengar aku, tidak ada pria baik-baik yang mau berjodoh dengan PSK.”

“Ya, dan tidak ada pria baik-baik yang bercinta dengan PSK.”

***

Hari ini, pelangganku ada delapan, dari jam dua puluh hingga subuh, namun yang kuingat hanya dirimu. Meskipun wajahmu tidak jelas kuingat, aku ingat betul wangi tubuhmu dan bagaimana kau bercinta. Aku lebih ingat lagi, bagaimana kau mengajakku menari saat malam mulai lingsir dan berganti hari, pada lagu jazz noir “Tres Palabras” oleh Charlie Haden lewat MP3 player yang kau bawa.

Aku tidak ingat warna bajumu, namun aku ingat kau menggunakan kemeja. Terlalu rapi untuk sekadar bercinta, kukira mungkin kau baru saja pulang kerja. Namun, kau katakan tidak, “Aku hanya berniat untuk menemuimu saja”. Aku tanyakan padamu, apakah kau mengenalku, namun kau katakan tidak, “Aku hanya mengetahuimu dari remangnya bulan di Jalan Pasar Kembang”. Ketika kutanyakan apa niatanmu padaku, kau menjawab, “Aku ingin membuatmu senang, bahagia jika perlu. Meski cukup untuk satu jam, dan setelah itu mungkin kita tidak akan pernah bertemu.”

Aku tahu, cerita ini tidaklah cliché sehingga kau tidak berani menyentuhku. Tidak, kau sungguh berani menyentuh mulai dari raga hingga sukmaku. Sambil berdansa, kau menembus masuk rongga-rongga rusukku. Mengalir bersama darah yang di pompa dalam jantungku. Bertukar dengan oksigen di paru-paruku. Pelanggan ketiga, kau melebur aku.

Kemudian, kau buka pakaianku satu-satu. Kembali pada raga, ternyata kau juga pandai memainkan berahiku. Kau mainkan dengan penuh hormat, seakan-akan aku begitu berharga ketika aku memang sudah tidak ada harganya. Maka dari itu, tanpa kau minta, aku menyerahkan diri padamu. Jika memang kau berniat untuk membuatku bahagia, lakukanlah. Lakukan dengan cepat, karena 40 menit telah berlalu.

Akhirnya kau lakukan itu. Kau lakukan dengan begitu hormat dan lembut, kau hilangkan hampa dari asa dalam sukma. Padahal, biasanya kukosongkan jiwa ketika pelanggan mengerjakan tugasnya, namun denganmu ternyata berbeda. Kau buat pikiranku menjadi begitu penuh, darahku jadi panas, dan keringatku bercucuran. Ragaku terasa seperti kembang api di tahun baru, meledak dan gemebyar. Kurasakan semua sambil aku ciumi seluruhmu.

Pelanggan Ketiga, aku tidak ingat bentuk bibirmu, namun aku ingat bagaimana sentuhan bibirmu dan cara kau memainkan bibirku. Aku tidak ingat bidang dadamu, namun aku ingat teduhnya ketika aku dalam pelukmu. Aku tidak ingat banyak hal, namun aku ingat sesuatu. Tampaknya aku jatuh cinta padamu, namun entah mengapa, pikiran tersebut justru membuatku kalut. Kemudian aku kembali tidak bisa merasakan apa-apa dan pikiranku kembali melayang. Melayang ke tempat berbeda dari yang sudah-sudah, melayang ke tempat yang gelap dan sepi. Karena seperti itulah cinta bagiku, gelap dan sepi. Sendiri dan terisolasi. Cintaku banyak, namun semuanya dibuat-buat. Cintaku bersyarat, bernama, dan banyak permintaannya. Cintaku berbayar, bisa kau temui di pelacuran, dan permintaannya tergantung pelanggan. Lalu bagaimana aku dapat mencintaimu, kalau memang cinta tidak sesederhana itu? Kemudian bagaimana denganmu, apakah kau mencintaku juga?

Pintu kamarku diketuk, waktumu tinggal lima menit lagi. Kita telah menyelesaikan semuanya, bercinta dengan raga, rasa, dan asa. Mencoba menjadikan satu jam jadi selamanya. Katanya, hanya cinta yang dapat mempermainkan waktu, sehingga ia dapat memanjang serta memendek, seperti astronaut yang ketika pulang usianya jadi lebih muda. Namun ternyata, kekal memiliki akhir, dan yang dapat kita temui hanya wujudnya saja.

Kau kenakan baju  dan membuka pintu. Di depan, germoku telah menunggu, meminta uang darimu. Kalian berbicara dengan berbisik, aku rasa kudengar sedikit, “Berapa tadi?”, dan si Germo menjawab, “Satu jam 300”. Kau ambil dompetmu, menyerahkan uang merah tiga lembar, seraya mengatakan terima kasih. Kemudian kau kembali masuk ke kamar, mengambil tasmu yang masih ada di dalam. Kau tatap mataku dalam, dengan kebingungan yang sama seperti yang kurasakan. Resahmu membuatku berani menanyakan;

“Kenapa kau lakukan semua ini? Apakah kau mencintaiku?”

Kau tatap dirimu sendiri di cermin, sambil memastikan kau terlihat rapi. Setelah itu, kau tinggalkan uang berwarna biru di meja samping tempat tidur. Lalu kau tatap mataku sebentar, sambil tersenyum;

“Terima kasih, selamat tinggal.”, katamu sebelum pergi, dan kemudian menutup pintu.

Si germo membuka pintu, mengabari tiga puluh menit lagi pelanggan selanjutnya masuk. Tetapi, aku masih tetap tergeletak di situ. Mencoba menyusun keping demi keping kejadian yang telah terjadi, keping demi keping rasa yang ada dan lalu dibentuk, keping demi keping penasaran tentang apa yang akan terjadi. Akankah bertemu lagi?

Selepasmu, aku mulai tahu cinta hanya akan berujung pada pertanyaan yang begitu panjang rantainya. Karena, meski cinta seharusnya tak bersyarat, tak bernama, dan tidak banyak permintaan; kenyataannya, cinta begitu ditakar dan begitu dicoba-coba. Dikemudian hari, cinta menghadirkan sesal, namun kita masih begitu gigih untuk mengulangnya.

Pada akhirnya, dirimu masih jadi tanda tanya. Seperti yang terdahulu. Kemudian hanya jadi kisah lalu, yang meski saat ini mendatangkan senang, jika dikenang hanya mendatangkan pilu. Diujung hari, tanpa berjumpa, kau hanya akan tetap jadi pelanggan ketiga.

Hari ini, istirahatku ini aku habiskan dengan memikirkanmu, Pelanggan Ketiga. Hari berganti, lalu malam datang lagi. Mataku biru karena tidak tidur. Lalu dirimu, masih jadi penasaranku yang mungkin sedang bergegas mencari PSK baru.

***

Jakarta, 30 Juni 2018

Anindhita Soekowati

13:17

 

Advertisements
I can never truly love anyone else other than you -Utari

Her Death: Drown

Sometimes, heaven and hell are too good to be true

I’m a sinner, with or without you

At times I wonder, how does it feels, to drown

I wonder would both feel the same whether drowning in cold water or in you

Now I know how it feels, being surrounded by the water foams and little fishes

Being suffocated, yet liberated

Loosing my heart beat, but finding yours

Seeing you, in the death of me

From a distance I see your face in the deep ocean,

Love, is that you?

I’m a sinner, and so are you

I believe it doesn’t matter, being in hell or water,

As long as we are together

 

Thursday, 8th March 2018, 03;11 AM

Anindhita Soekowati

 

Another Life

His lover died

He loved her so much

He cried

 

Her ex was depraved

She gave up so much

She was broken hearted

 

Finally, they met

They fall in love, realities

They should not be in love, not within these believes

 

One day, she left without any words

Somedays later, he called her non stop without any answer

Every other day, they think about how life would be, if it was their destiny?

 

Half a year later, she writes him a letter,

“In another life, I hope it will be better”

He replies, with a heartrending answer

 

Had she realized,

In another life, would they choose to be together?

Would he choose the girl who died, rather than the girl who leaves?

 

In another life,

Would their destinies creep one another?

Would their eyes meet, and gaze in each other?

 

Would life still be worth living

Or would it turn out the same

 

She then understands

Today, is the best destiny it could ever be

Even if it means that they were not meant to be

 

A year has passed since the day they met

He’s striving to make a living

She’s simply existing

 

Jakarta, 24 Februari 2018

Anindhita Soekowati

 

I want to feed people

But I’m afraid to starve

I want to be useful

But I want to sleep

I want to be sucessful

But I procrastinate

I want to be love

But I don’t love enough

I want to change the world

But here I am, struggling to make myself better than I was before

Di Sisi Lain Ranjang

4b38cc99166b90cccbdcf16c4f415241

Ini kisah tentang orang-orang yang saya kenal, sebut saja Adinda Laras dan Prawira Aji. Tak banyak yang tahu tentang mereka, bahwa mereka dekat. Kisah ini akan jadi kisah sedih dari awal hingga tamat nanti. Sedikit banyak, cerita ini mengisahkan kalut perasaan dan ketidakadilan yang mereka rasakan, dan apa yang terlihat dari mata orang ketiga.

Pendek cerita, si Pria melakukan dosa besar dengan melakukan pelecehan seksual terhadap gadis lugu yang sangat memercayainya. Gadis bernama Adinda itu, hanya bisa membisu dan tidak melakukan apa-apa ketika Wira melancarkan niatannya di keramaian. Dalam hingar ia sendiri, tak seorang pun tahu. Malam berakhir dengan Adinda memaksa Prawira bertemu orang tuanya di depan rumah, sebagai tanda. Siapa tahu hal buruk terungkap di kemudian hari, Ibu dari Adinda sudah mengetahui wajah dari bedebah ini. Tak sekalipun Dinda katakan pada Wira, bahwa ia menyadari apa yang telah dilakukannya.

Pada akhirnya, hingga detik ini mereka tidak pernah berbicara lagi. Sekalipun dua minggu setelah kejadian itu, Prawira terus-menerus berusaha menghubungi Adinda sekali seminggu walaupun tak pernah lagi ada balasan. Syahdan, Adinda memutus hubungan sosial medianya dengan Prawira, dan akhirnya Pria ini tidak lagi berusaha menghubunginya.

Tak banyak orang tahu, namun Prawira adalah Pria yang sudah berkekasih, jelita pula. Gadisnya anak orang kaya, berwatak halus, namun naif juga. Prawira kerap bercerita pada saya bahwa tak sekali ia main di belakang gadisnya, ia tak mengatakan pada saya bahwa salah satunya adalah Adinda. Yang tidak ia ketahui adalah, Sang Gadis sedikit menaruh hati padanya, sebab Prawira menjalankan modus operandinya dengan sabar berbulan-bulan. Lain halnya Prawira, saya tak menangkap apakah ia benar-benar menyenangi gadis itu atau tidak, mungkin karena wataknya yang jelas buaya. Malahan, Prawira ini memancarkan nafsu yang berhasil ia bungkus dengan rapi dalam perhatian tiada rupa dan tak terkalahkan. Gadis ini manis, meski ia sangsi akan hal itu. Namun Prawira berhasil membuatnya merasa berharga, dan Adinda benar-benar merasa itu lebih dari cukup.

Setelah pelecehan seksual itu terjadi, Adinda tiga bulan tidak keluar rumah kecuali untuk berkuliah. Padahal ia seorang yang teramat supel dan jawara dalam berteman. Di rumahnya, ia terlihat biasa saja, bak tidak terjadi apa-apa, begitu juga dengan Prawira. Namun ada kalanya, Gadis ini menangis meraung-raung karena hatinya begitu luka setiap melihat nama Prawira di layar kaca. Ibunya bercerita pada saya bagaimana hatinya tersayat setiap mata sayu Dinda meneteskan air mata. Sayangnya, bahkan Adinda tidak tahu mengapa ia acap kali menangisi lelaki yang tidak pernah ia cintai. Ia sekedar menaruh hati, bukan suatu apa.

Di sisi lain ranjang, Adinda bercerita pada saya dengan mata mengawang dan nanar.

“Ternyata aku tidak berharga, Sukma.”

“Sudah, jangan kau sebut begitu, Dinda.”

“Ah… Bagaimana tidak, Sukma? Manisnya ia tak sampailah di bibir pula, namun pada tindaknya. Entah, seperti mawar ia merajai aku, lalu sampai batang ia berduri”, Adinda menarik napas panjang. “Hatiku sungguh terluka, Sukma.”

“Kenapa Adinda? Kenapa tidak kau lupakan saja?”

“Karena tak habis pikir bagaimana ia bisa begitu hilang akal dan menghinakan orang dekatnya. Pun aku bukan kekasih, bukanlah aku berhak untuk dijaga, Sukma? Ia yang selama ini melindungiku, kuat hati merendahkanku.”

Adinda tidak menangis, namun saya tahu pasti di dadanya seperti ada goresan bekas cakar dan cabikan. Sekiranya harga diri lebih tinggi dari materi dan kesenangan dunia.

Kemudian tanpa kata, saya membaca pesan di mata Adinda. Ketidakadilan yang ia rasa ternyata bukan satu-satunya perkara. Kalut ia rasakan, tentang perasaannya pada Prawira. Seperti pinang, di sebuah sisi sosok Wira sudah menjadi celaka bagi Dinda. Mendengar namanya seperti mendengar petir, hadir hawanya seperti mimpi buruk. Takut. Wira merupakan tersangka pelecehan seksual pada teman. Di sisi lain, Dinda membayangkan bahwa Wira yang ia kenal. Orang baik yang sedikit genit, namun selalu ada di balik punggungnya dengan diam. Memeluk pinggangnya agar aman dari orang asing. Lalu bagaimana jika si Pria ini tidak merasa berdosa? Atau tidak menyadarinya? Ampun. Itu saja sebenarnya yang jadi buah pikiran Adinda tentang Wira. Mungkin begitu kodratnya wanita, selalu menyelipkan maaf juga pada yang tak berdaulat.

Kini, lama sudah nama Prawira hilang dari jagat saya. Entah, mungkin Pria ini merasa bersalah lantas pergi dari lingkup Adinda, mungkin juga ia enggan berkomunikasi dengan saya. Jelas tampaknya kalau ia luka juga. Bagaimana tidak, sebulan lebih ia berusaha menghubungi Adinda malah berakhir dengan Adinda memutusnya. Anggaplah ia tidak tahu salahnya, maka di matanya Adinda telah berdosa padanya. Namun ia tidak dapat mengikat Dinda dalam belenggunya, mengingat kekasih pun bukan. Jika dalam kesempatan lain Prawira memang jatuh cinta pada Dinda, tidak dapat saya bayangkan betapa luka hatinya dalam serakah. Bukankah, kehilangan yang pernah tergenggam paling menyakitkan?

Saya jadi ingat cerita Wira, tentang bagaimana ia menanti gadis itu berjam-jam di kampusnya, hanya agar Adinda mau mengajarinya memainkan alat musik, dan bagaimana Adinda lupa cara main musik ketika sampai di rumah Wira. Akhirnya mereka menghabiskan malam di suatu kafe di jalan Menteng, yang diselingi dengan telepon panjang dan kebohongannya pada kekasihnya. Sekarang, Wira hanya bisa mengingat-ingat, dan berharap Adinda tutup mulut.

Apa dayanya, nasi sudah menjadi bubur. Bukan hak saya mengatakan siapa bersalah, walau sudah jelas siapa. Manusia saling menjadi asing, penasaran jadi sangsi, rasa rindu pun  jadi tak ingin bertemu. “Seandainya, aku tidak mengenal dirimu.”

Seminggu yang lalu, linglung yang meresahkan masing-masing dari Dinda dan Wira, akhirnya hanya diakhiri dengan suatu pertanyaan;

“Sombong sekali Dinda? Tidak membalas pesan saya.”

 -blokir-

Tamat

 

Diambil dari kisah nyata

Jakarta, 11 November 2017

Anindhita Soekowati

Sarak

Matahari tenggelam di antara sayu matamu
Mendatangkan gerimis yang jatuh dari sembab mataku
Kurasa janji yang membuaimu, telah habis dalam kalut pikirku
Perasaan yang sama, ketika aku jatuh pada terjal lekuk bibirmu

Gelap malam dan gemuruh petir mengisi jeda di antara aku dan kau
Menimbulkan tanya, mungkinkah esok dapat ditunda kedatangannya
Sempitnya waktu tidak memberi kesempatan bagi kasih bergejolak dalam relungku
Lamanya rintik akhirnya hanya sanggup membuat kita mendekap menunggu

Dan ketika akhirnya hari ini habis, detik berdenting maju
Meski gelap gundah matamu tetap meruangi aku
Sekali aku berpisah denganmu
Seribu tahun senjamu mengisi jiwaku

Di lain waktu alam berisyarat pada aku dan kau
Aku sampaikan rindu dan ampun
Kau sampaikan padaku;
Jika pergi tanpa pesan,
Jangan pernah kembali walaupun dengan ribuan permisi

Jakarta, 14 Oktober 2017
Anindhita Soekowati

a3914c8ade5884d3fbc9cdecd252e26c